Lebaran yang tak lagi sama
Dulu, sewaktu aku masih kecil, lebaran adalah waktu yang sangat dinantikam umat islam.
Aku ingat, Abah dan simbah kakung, jauh sebelum lebaran nglabur rumah kami yang terbuat dari gedek dengan kapur. Sementara Mama, simbah dan Yu ngatini sibuk mengeringkan tepung buat kue - kue lebaran seperti kue semprit dan keciput.
Sementara aku dan Kakak, sibuk ngerecokin pekerjaan mereka, lalu kami bermain bersama kawan - kawan, seraya bercerita tentang baju - baju baru kami.
Bagi kami, lebaran adalah moment yang sangat spesial. Namanya anak kecil, siapa juga yang gak suka dengan baju baru, sandal, sepatu baru, makanan dan kue - kue juga uang angpau dari saudara - saudara.
Malam menjelang hari raya, aku sudah tak sabar menunggu pagi, sampai tak bisa tidur karena pengen cepat - cepat memakai baju baru. Sampai baju barunya dipeluk saat tidur. Karena takut hilang. Hahahahah
Lebaran yang tak lagi sama
Namun, setelah aku bekerja dan menikah. Makna lebaran mulai bergeser. Terutama semenjak marak medsos. Orang - orang yang dulunya silaturahmi masuk ke dalam rumah, lalu menikmati kue - kue seraya mengobrol dan bercerita ngalor ngidul. Kini nggak. Mereka hanya silaturahmi di depan rumah, ala kadarnya. Setelah itu sibuk dengan aktifitas masing - masing atau malah pergi ke tempat wisata.
Adapun saat berkumpul dengan keluarga, hanyalah cara buat adu pencapaian. Pertanyaan - pertanyaan menyudutkan membuatku tidak nyaman. Owh, aku baru paham sekarang, kenapa banyak orang yang rela berhutang demi terlihat sukses saat pulang kampung? Sementara aku suka tampil seapa adanya.
Terlebih setelah, Abah, simbah dan Mama tiada. Aku tidak lagi antusias untuk mudik. Sebab tidak ada senyum teduh yang menyambutku, tidak ada tangan keriput yang kucium dan membelai kepalaku. Semuanya sirna, dan membuatku hilang euforia akan lebaran.
Lebaran kini hanya serangkaian aktivitas setelah puasa. Aku dan keluarga kecilku merayakan lebaran dengan cara berbeda dan jauh lebih sederhana.
Aku tidak lagi membeli kue maupun menyiapkan hidangan spesial. Toh tidak ada tamu yang datang. Anehnya, kakakku suka mengirimkan kue - kue pada kami.
Setelah sholat ied, aku video call dengan kakakku satu - satunya. Setelah itu mengirim pesan ke teman - teman dekat, lanjut makan mie instan dan menonton film bersama anak seraya menunggu suami pulang bekerja. Sampai tak sadar sudah tertidur pulas.
Kebiasaan kami nyaris sama setiap tahun, jauh dari keberisikan media sosial. Kami menikmati momen kebersamaan sederhana itu dengan tenang.

.png)

Komentar
Posting Komentar