Alasan Kenapa Masih Bertahan Di Tempat Kerja yang Toksik?



Tiap individu pasti menginginkan pekerjaan yang nyaman. Baik dari segi gaji, bos maupun rekan kerja yang bagus. 

Sayangnya, tidak semua orang mendapatkannya. Ada yang gajinya bagus, tapi bos ataupun temannya resek. Ada juga yang gajinya kecil tapi bos dan temannya baik seperti keluarga. 

Saya perhatikan, orang - orang lebih mengutamakan lingkungan kerja yang nyaman. Bos yang bisa jadi leader dan mengayomi serta teman yang baik. Mereka bakal betah bekerja, meski gaji tidak seberapa. 

Alasan Kenapa Masih Bertahan Di Tempat Kerja yang Toksik?

Pekerjaan yang saya dapatkan kali ini, bukanlah pekerjaan impian. Bisa di bilang saya mengambil pekerjaan ini karena faktor kepepet. 

Ketidak pastian finansial dan faktor umur, menyulitkan saya mendapatkan pekerjaan. Sehingga saya mengambil pekerjaan yang ada di depan mata. Asal halal dan dapat uang bulanan, sudah cukup pikir saya waktu itu. 

Saya abaikan gosip dan candaan tetangga, kenapa saya bekerja di situ. 

Selanjutnya, seiring bergulirnya waktu, muncul pertanyaan kenapa turn over staff di sini tinggi sekali? Paling lama dua bulan, bahkan ada yang dua hari sudah cabut. 

Fakta ini menarik perhatian saya. Apalagi ada banyak kejadian yang membuat hati saya giris dan geleng - geleng kepala. Sifat bos yang pemarah, dan rekan kerja yang manipulatif membuat banyak orang tidak betah bekerja. 

Saya sempat bertanya kepada mantan pekerja di sini, dan jawaban mereka sama. Mereka tidak mau dimarahi terus. 

Siapa juga yang kuat dimarahin tiap hari. Hati kan bukan batu, dan gak selamanya positif.. 

Di tempat kami, tidak ada peraturan jelas, ditambah micromanagement, membuat saya sering berpikir untuk resign. 

Lucunya, saya masih bertahan hingga kini. 

Alasannya simple, saya butuh uang! Untuk bertahan di perantauan, dengan mengandalkan penghasilan suami yang tak tetap tidaklah mudah. Sementara dapur harus mengepul tiap hari. Jika saya tak turut bekerja. Lambat laun kapal bisa oleng. 

Selain itu, di umur saya sekarang, sedikit pekerjaan kantoran yang mau menerima. Saya kalah saing dengan anak - anak muda. Jadi mau tidak mau, harus menerima pekerjaan yang tersedia, dan kebanyakan pekerjaan informal. 

Meski semua tak mudah, saya bersyukur memiliki pekerjaan. Setidaknya saya masih ada harapan pendapatan dan itu sangat membantu kami tetap survive di perantauan.


Komentar

Postingan Populer