Ketika Rencana Tidak Sesuai Harapan - Tentang Menabung



"Kok bisa kamu gak punya tabungan?" celetuk salah seorang kawan kepada saya dengan suara remeh.

Pertanyaan yang membuat saya menarik napas dalam. Hati saya seperti disayat silet. Perih!

Sebelum hati saya kian sedih dan membandingkan kehidupan kami. selanjutnya saya set back. Bukan mengisolasi diri dari kehidupan sosial, melainkan fokus memperbaiki hidup. 

Terkadang ada orang yang perlu kita hindari, bukan karena benci. Tapi untuk memprotek kenyamanan hati. 

Siapa sih yang gak pengen punya tabungan banyak? Setiap orang pasti mau hidup nyaman dan aman di masa tua, tanpa membebani anak kelak. Realitanya, hidup itu tidak menyajikan apa yang kita mau. Malah sering kebalikannya. Ini bukan tentang membela diri. 

Soal mimpi hidup stabil itu sebenarnya sudah lama saya rajut. Salah satunya dengan menulis novel online, dan membuat kanal youtube, supaya menjadi side hustle dan bisa membiayai hidup slow living di pinggir kota, sambil berkebun, serta berternak ayam atau kambing. 

Semakin tua, saya sadar, rupanya saya bukan wanita materialistik yang haus  harta. Punya rumah gedong mewah, mobil berderet, emas berton - ton, atau pergi umrah berkali - kali. Tidak. 

Justru saya menginginkan hidup sederhana, di mana bisa provide semuanya sendiri. Seperti kehidupan di desa waktu saya kecil. Mau masak sayur, tinggal petik di kebun. Mau makan telur tinggal ambil di kandang ayam. Rasanya kok tentrem banget ya. 

Sayangnya, apa yang saya lakukan, belum sesuai harapan. Chanel youtube yang saya buat, susah monetisasi, novel - novel yang dipublish online pun tenggelam. 

Hingga saya bertanya, apa saya kurang keras bekerja, ya? Atau saya terlalu idealis tidak mau mengikuti trend dan melakukan semuanya berdasarkan hari nurani?

Meski begitu...

Bohong, kalau saya tidak khawatir dan takut akan masa depan. Di usia yang hampir 47 tahun ini, saya memang belum punya tabungan, buat masa tua. 

Hidup saya tidak boros, justru tipikal sederhana, dan hanya membeli barang ketika perlu. Masalahnya, hidup kami belum stabil, dan seringkali menapak di jalan runcing. Tabungan, akhirnya saya relakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anak. Alhamdulillah masih bisa survive tanpa berhutang. 

Apakah menabung itu perlu?

Perlu banget! Setidaknya kita merasa aman jika ada uang atau emas. Hingga kini saya tetap menyisihkan gaji yang tak seberapa untuk menabung. 

Sebab saya sadar, kita gak bisa ngandelin orang lain untuk bantu, kecuali diri kita sendiri. 

Soal ketakutan menghadapi masa depan, saya pelan - pelan menerima kondisi dan saya pasrahkan pada Sang Pemberi Hidup. Apalagi yang bisa kita lakukan selain berikhtiar dan menyerahkan hasilnya padaNYa?

Saya mulai paham semua yang terjadi karena sebuah alasan. Mungkin Allah mau supaya saya kian dekat PADANYA. Mungkin Allah mau saya gigih bekerja dan tetap menabung. 





Komentar

Postingan Populer