Tuhan, Kamu di mana?
Di depan toko, mataku menatap hujan yang rupanya betah mencium bumi.
Aku kelaparan! Dari semalam perutku belum terisi apa - apa. Hujan deras membuat orang malas keluar rumah, dan itu berarti tidak ada orang baik yang memberiku makan. Jadi, aku terpaksa mencuri makanan di warung sebelah.
Sayangnya pemilik warung memergokiku. Dia membawa sapu dan mengejarku. Aku lari terbirit - birit ketakutan.
Hidup di jalanan itu keras. Kami saling berebut makanan. Siapa yang kuat dia bertahan. Belum lagi si orange yang mengejarku minta jatah! Tanpa peduli aku hamil dan harus merawat anak.
Beberapa bulan lalu aku hamil. Rasanya hampir mati membawa perut besar ke mana - mana. Untungnya ada Pak tua penjual nasi kuning yang memberiku makan.
Aku menyayangi pak tua itu, karena dia menyayangiku, memberiku makanan gratis tiap pagi.
Apa kamu tahu, kebaikan pak tua sangat membantuku bertahan hidup bersama anak - anakku. Sayangnya, pemilik toko tidak suka dengan kehadiran kami.
Salah satu anakku dibanting, gara - gara pup sembarangan di depan toko. Aku kehilangan anakku.
Setelah itu dia mengusir kami. Aku sempat mendengar amarahnya ke Pak Tua karena memberi kami makan.
Tentu saja aku sedih, andai saja aku bisa bicara. Aku mau berkata kepadanya, andai kamu jadi kucing, kamu pasti mengerti penderitaan kami. Sebab kami bisa bertahan karena kebaikan manusia juga.
Sayangnya aku tidak bisa. Aku hanya bisa mengeong giris. Saat Pak tua membawaku dan anak-anakku ke rumah kosong. Aku tahu, dia mau melindungi kami dari orang yang membenci kami.
Tapi, aku tidak kerasan di tempat baru. Di sini pengap, dan aku butuh makanan extra untuk menambah energiku untuk menyusui.
Aku nekad kembali ke toko bersama anak - anakku. Kusuruh mereka bersembunyi di gudang gas. Kali ini aman. Aku sedikit lega melihat anak - anakku bertumbuh. Pak tua itu, juga diam - diam memberi kami makan.
Tapi... ibu pemilik toko mengendus kehadiran kami lagi. Kali ini amarahnya lebih besar. Dia melempari kami dengan batu. Matanya mendelik hingga hampir copot. Bukan hanya pak tua yang dimarahi, karyawan tokopun kena semprot. Aku lari ketakutan. Kemudian aku kembali ke toko, mengeong - ngeong mencari anak - anakku. Di mana anakku? Di mana anakku. Mereka tidak ada! Aku tidak bisa menemukannya. Aku meratap menangisi kepergian anakku.
Meski sedih, hidup harus tetap berjalan. Aku sering ke toko. Terkadang aku tiduran di teras. Meski pemiliknya galak, tapi banyak orang baik yang memberiku makan.
Pak tua itu juga masih setia memberiku makan. Tubuhku mulai menggemuk.
Minggu pagi, ketika aku sedang menikmati nasi kuning, kudengar suara menggelegar memekakkan telinga. Itu bukan suara petir. Melainkan suara ibu pemilik toko yang memarahi Pak Tua dan karyawannya dengan kata - kata kasar.
Kulihat mata Pak Tua itu berkaca - kaca. Aku tahu, hatinya pasti sakit sekali. Dia lalu membawaku pergi jauh dengan motor.
Aku hanya bisa menatap wajah pak tua itu. Aku tahu dia sedih. Aku juga sedih. Ini bukan mauku menjadi kucing jalanan. Hidup yang dijalani dengan penuh ketakutan. Aku suka iri dengan kucing rumahan. Mereka tidak lerlu ketakutan seperti kami. Mereka punya tempat tidur hangat, makanan lezat dan disayangi oleh pemiliknya. Sementara kami, buat bertahan hidup sehari saja, kami harus rela babak belur. Bukan hanya badan kami yang sakit, tapi hati kami juga sakit.
Sering, aku bertanya, Tuhan, kamu di mana?

.png)

Komentar
Posting Komentar