Morning Peace



Jam 5.49 pagi lewat. Di luar hujan masih deras mengguyur. Setelah sahur dan lanjut beribadah. Kurebahkan badan di  atas kasur. Anak dan suami rupanya sudah tertidur pulas. Sementara Tipat Ndut - kucing kami melamun di teras, bersama kucing liar yang suka nongkrong di tempat kami. 

Ini adalah hari ke delapan puasa, kebetulan juga aku sedang libur. Jadi, aku tak perlu  buru - buru memasak atau buru - buru berangkat kerja. Maunya tidur lagi. Tapi... otakku terlalu aktif, sibuk memikirkan ini itu, sampai resep untuk beberapa hari ke depan kupikirkan. 

Saat berbuka puasa maunya makan dari yang manis, gurih hingga pedas. Jadi sedapat mungkin aku membuat ketiga makanan itu. Bubur kacang hijau atau teh manis sering menjadi pilihan. Untuk masakan,  kami menyukai rasa gurih dan pedas. Kalau sudah ngomongin makanan, aku tidak pernah jenuh, ada saja topik menarik yang bisa disisir. 

Morning peace.

Karena jam masuk kerjaku lumayan pagi. Jadi, aku selalu merindukan hari libur. Di mana aku bisa mengatur waktuku sesuai dengan ritme tubuh. 

Aku juga bisa goler - goler di atas kasur sambil membaca, atau bengong saja tanpa melakukan apa  - apa. Rasanya enak banget. 

Semakin bertambah umur, aku menyukai kesendirian, dan melakukan hal yang kusukai seperti memasak dan menulis tanpa takut dikejar - kejar waktu. 

Bekerja di minimart dan bersentuhan dengan ritel serta orang sales, membuaku melihat dunia dari sisi lain. Kadang aku mikir, apa gak capek ya ngejar duit dan target melulu, Aku saja yang mendengar cerita mereka ikut ngos - ngosan. 

Yes, memiliki uang banyak, mencapai goal adalah mimpi banyak orang. Tapi, jika pada akhirnya waktu terpasung gara - gara ngejar uang dan target melulu apa enaknya? Tanpa kamu sadari, kamu telah menciptakan ruang kosong yang membuat hidup kamu hampa. 

Balance life

Aku dulu pernah di fase itu, fokusnya hanya kerja, kerja, kerja dan bagaimana menghasilkan uang banyak. Bukannya bersyukur dengan semua yang aku miliki. Aku makin serakah dan banyak maunya. Aku abaikan apa kata nurani. Pikiranku hanya uang dan uang. 

Tapi... semakin aku mengejar uang, impian menjadi kaya raya, punya villa dan rumah makan kian jauh. Lebih buruknya lagi, aku makin  jauh dari Allah. Hidup teeasa hampa. Akhirnya bisa ketebak. Keluargaku jatuh dan nyaris bubar. Aku terseok - seok bangkit. Tapi itulah kuasa Allah. Kesakitan membuatku belajar banyak hal, terutama soal uang. 

Aku mulai menerapkan hidup balance, Menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat. Saat aku mendekatkan diri ke Allah. Nikmatnya luar biasa. 

Meski hidupku belum berlimpah uang. Meski kadang suka nangis dengan up and downnya hidup. Selama aku bersama Allah, ada saja pertolonganNYA. Ruang kosong di hatiku juga mulai terisi. Aku bisa mensyukuri hal - hal kecil yang dulu sering kuabaikan. 

Seperti hari ini, aku bisa menulis sambil tiduran di atas kasur, adalah kebahagiaan sederhana yang membuatku tenang. 

Bahagia itu ternyata sederhana. Saya saja yang membuatnya rumit.




Komentar

Postingan Populer