Mensyukuri Pagi dengan Seporsi Jaje Bali




Angin sepoi - sepoi berhamburan masuk melalui pintu, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. 

Sementara  itu, aku duduķ menikmari seporsi jaje Bali seraya memperhatikan Tipat - kucingku yang melamun di teras. Entah apa yang dia pikirkan pagi ini. 

Dalam hitungan menit seporsi jaje Bali di depanku tandas. Manisnya pas. Di tengah  maraknya aneka jajanan viral, aku bersyukur masih bisa menemukan penjual kue tradisional, seperti jaje Bali di pasar. Seporsi dibandrol lima ribu perak. Ada jaje laklak, cenil, pisang rai berikut ketan hitam dan putih. Dilengapi dengan taburan kelapa parut dan saus gula merah (kinca). 

Jaje Laklak, sekilas mirip kue serabi. Bentuknya bulat kecil, terbuat dari 
beras, air dan garam. 

Kata Laklak secara etimologis diartikan jangan lengah dengan kehidupan yang akan datang atau semacam pengingat pada manusia agar selalu waspada dalam kehidupan di dunia ini (Dwijendra TatwaNo. Va/109).  

Cenil, berbentuk lonjong, teksturnya kenyal  dan lengket serta berwarna pink. Cenil, melambangkan eratnya persaudaraan, dan warnanya yang cerah menggambarkan keceriaan, kreatifitas serta menarik perhatian. 

Pisang rai melambangkan rasa syukur dan kesederhanaan. Kata "Rai "dalam bahasa Bali berarti wajah. Pisang  yang dibalut dengan tepung beras melambangkan kesederhanaan, serta proses pembuatannya yang direbus mengingatkan bahwa hidup itu tidak mudah, seyogyanya selalu melakukan pembersihan diri dan tidak hidup berfoya - foya. 

Ketan hitam dan putih. Tekstur ketan yang lengket melambangkan kebersamaan, keterikatan baik dalam keluarga maupun komunitas.

Komentar

Postingan Populer