Cinta? Tapi Beda Agama
Kehamilan datang membawa beragam cerita bahagia dan sedih. Bahagia, bila memang kehamilan itu diharapkan kedatangannya, tapi bagaimana jika sebaliknya?
Saya bukanlah wanita suci, maka dari itu sedapat mungkin saya jaga anak perempuan saya supaya bisa menjaga diri dan nama baik orang tuanya. Itu juga yang saya lakukan terhadap anak - anak perempuan yang dekat dengan saya.
Namun, ada hal yang saya sadari, tidak semua hal yang bisa kita kontrol, kecuali tindakan kita sendiri.
Beberapa hari ini, pikiran saya kalut gara - gara memikirkan masalah teman. Dada saya turut sesak. Meskipun saya coba release, tetap saja nyantol. Sampai saya pikir, pelajaran apa nih yang bisa saya ambil?
Semalam teman saya teks lagi. "Saya yang akan merawat anak itu, kelak, dan siap menerima semua gunjingan tetangga, Mba," cetus seorang teman kepada saya.
Saya terdiam beberapa saat, mencoba menelaah alasannya.
Seorang Ibu pasti punya naluri untuk melindungi anaknya. Apapun akan dilakukan demi anaknya bahagia.
Hati Ibu mana sih yang tidak sengsara saat mengetahui sang anak hamidun di luar nikah, beda agama pula? Si ibu bagai makan buah simalakama. Apa yang mau dilakukan jadi serba salah.
Cerita itu membuat saya termenung. Owh, gini ya jadi orang tua. Beban zan tanggung jawabnya besar. Bukan hanya sekedar memberi makan dan menyekolahkan saja. Lantas? Ilmu lagi yang saya pelajari. Maka, saya tulis di sini sebagai refleksi.
Cinta? Tapi beda agama
Dulu, baik Mama dan ibu mertua saya menentang keras hubungan saya dan suami. Saya muslim dan suami Hindu.
Mama selalu mengingatkan. "Abot, Nduk. Jangan diteruskan. Mama pengen kamu bahagia, dan mama pengen silaturahmi ke rumah besan yang seagama. Carilah yang sekufu, Nak."
Sayangnya, saya terlalu naif. Saat itu saya merasa paling hebat karena bisa menghasilkan uang sendiri. Saya berani membantah semua nasehat Mama. Karena alotnya restu orang tua, makanya hubungan saya dan suami hingga 7 tahun sampai ke pelaminan!
Dan ternyata, setelah suami mualaf dan kami menikah. Saya baru memahami, omongan Mama benar! Gini ya kalau menikah tidak sekufu.
Seagama aja ribet, apalagi keluarga beda agama. Rumit! Sebab menikah itu bukan hanya menyatukan dua individu. Melainkan dua keluarga dengan isi kepala yang berbeda - beda.
Kamu bayangkan saja bagaimana menyatukan dua kultur yang berbeda, sabarmu perlu diperluas dan dipanjangkan, supaya pernikahanmu awet.
Saya butuh 20 tahun untuk membuat ibu mertua jatuh hati kepada saya. Sementara anak saya, hingga sekarang sikapnya masih kaku dengan keluarga suami.
Dia amat pemilih. Meskipun saya sudah berusaha mendekatkan mereka. Alasannya? Rupanya dari kecil anak saya merekam semua ketidak nyamanan, dan merasa tidak pernah diterima sejak kecil. Jadi dia tahu mana saudara yang baik dengan saya mana yang nggak. Mengetahui hal itu, hati saya nelangsa dan merasa bersalah telah menorehkan luka pada putri saya.
Kalau sudah terlanjur cinta, gimana dong?
Cinta? Coba deh jawab ini dua pertanyaan simple ini?
- Apa kamu yakin, cinta kalian itu bakal menjamin kamu bahagia selamanya?
- Apa kamu yakin, pasangan kamu setia? Cinta itu gak kekal, bisa konslet, aus, dan padam.
Setelah mengalami berbagai ketidaknyamanan dan kesalahan, saya selalu mengingatkan putri saya untuk hati - hati dan selektif dalam memilih pasangan.
Boleh cinta asal logika juga dibawa. Jadi perempuan itu gak gampang.
Gak eenak lelaki yang gak menanggung beban membawa janin sembilan bulan. Kalau gak hati - hati, perempuan itu banyak ruginya. Jadi harus dipikirkan baik - baik mana yang benar dan salah.
So, lebih baik kamu berpikir milyaran kali untuk meneruskan hubungan yang beda agama. Lebih baik putus sekarang, sebelum semuanya terlambat.

.png)

Komentar
Posting Komentar