Mengolah Rasa


 


Cuaca siang itu begitu terik, hingga panasnya menerjang ke dalam toko. Aku yang sibuk wira - wiri melayani pembeli dan menata barang, kewalahan menahan peluh yang nyaris membuat tubuhku basah kuyup. Padahal pendingin ruang sudah kunyalakan dari pagi. Sayangnya tak bisa menghalau panas dari luar. 

Tak terasa, 10 bulan aku masih bekerja di toko.  Meski berulang kali aku nyaris putus asa. Aku tak mengira masih bertahan sejauh ini. Rupanya logiku jauh lebih berperan. Kutelan semua rasa sakit, baik itu perlakuan maupun perkataan sarkas yang sering kuterima. Alih - alih mengikuti perasaan. Aku kini lebih memilih logika. Punya pekerjaan dan memiliki uang sendiri itu sebuah previlige. 

Aku tidak pernah bermimpi untuk bekerja di mini market. Jauh bergeser dari mimpiku sebelum - sebelumnya. Faktanya, realita hidup melontarkan aku di sini. 

Jika aku masih bertahan, mungkin itu adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Di mana saat aku benar - benar butuh pekerjaan, tempat ini yang mau menerimaku saat itu. 

Jujur, tak mudah mencari pekerjaan di usiaku yang nyaris menyentuh setengah abad. 

Bekerja di minimarket itu gak mudah. Capek fisik dan hati. Sisi baiknya aku bertemu dengan beragam model orang dan tentu saja ada pendapatan! Senang rasanya bisa bebas membeli apa yang aku mau, tanpa perlu merengek pada pasangan. Aku bisa memberi uang jajan anak, sedekah dan membantu dapur tetap ngebul. 

Meskipun, ada hari di mana aku begitu bersemangat, kemudian ada hari - hari berubah sebaliknya. Tidak ada motivasi bekerja dan hati yang diselimuti mendung tebal. 

Hey, jangan salah. Ada perasaan tak enak saat sepi pembeli serta melihat wajah bos bermuram durja. Walaupun, aku paham, namanya orang berjualan pasti ada pasang surutnya. Tapi, ya namanya karyawan yang mengais kerja di situ, tetap saja aku maunya rame terus. 

Yang bisa kulakukan tak henti merapal doa supaya pembeli banyak datang. Tubuh dan semua barang di toko kuajak bicara. Aku mau bersinergi dengan mereka. Supaya turut memancarkan energi positif dan menarik orang dari segala arah datang. 

Kalau toko rame, meskipun capek, hati turut senang. Karena tahu bos bakal senang. 

Tiap hari ada banyak tantangan yang kutemui. Dari situ aku belajar untuk mengolah rasa. Aku lebih paham akan arti sabar. 

Bagaimana aku mengusap air mata yang luruh, kemudian pelan - pelan berdamai baik itu dari kepahitan, kegetiran maupun ketakutan akan masa depan. Aku pasrah, mengikuti alur hidup yang tak bisa kutebak, dan mempercayakan semuanya pada Allah. 

Alhamdulilah, All is well. Allah maha baik, aku dan keluargaku sehat dan survive. Seperti hari ini, aku Bisa menikmati sepiring tumis buncis proteina yang luar biasa nikmat. 

Masakan sederhana mengisi hari liburku. Alhamdulillah. Aku share resepnya buat kamu. 


Resep tumis buncis proteina.

1 bungkus buncis, potong sesuai selera.

5 kacang panjang, optional.

Proteina sesuai selera. Rendam 10 menit.

Minyak untuk menumis secukupnya

Air secukupnya 


Bumbu iris

3 bawang putih

2 bawang putih

1 iris jahe

Saus tiram

Garam

Kaldu bubuk

Gula

Micin sejimpit 


Cara membuat

Tiriskan proteina dan peras. Sisihkan.

Tumis bumbu iris hingga wangi. Masukkan buncis dan kacang panjang. Aduk rata. Kemudian tambahkan sedikit air. Lalu tutup beberapa menit hingga layu. Selanjutnya tambahkan proteina saus tiram, garam, kaldu bubuk, gula dan micin jika suka. Aduk rata dan masak beberapa saat. 

Selamat mencoba, dan tetap semangat, ya!






Komentar

Postingan Populer