Tertawan Jaje Bendu!
Saya termasuk orang yang menyintai makanan, khususnya makanan tradisional yang rasanya masih otentik, serta memiliki unsur cerita menarik di dalamnya.
Makanan bagi saya bukan hanya sekedar obat lapar, melainkan sebagai pemuas nafsu rasa ingin tahu, tentang resep dan kisah di dalamnya. Lalu, pelajaran apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut.
Beruntungnya saya tinggal di Indonesia yang memiliki kekayaan kuliner dari Sabang sampai Merauke yang asyik untuk dicari tahu.
Kemaren, saya menghadiri otonan 6 bulan cucu Bibi Tunik.
Aneka makanan khas Bali disajikan. Ada babi guling, lawar, ayam betutu, sate lilit ayam, tum ayam, serta jukut ares. Namun, saya lebih tertarik dengan jaje bendu! Bibi Tunik sengaja memesannya langsung dari Negara.
Jaje Bendu merupakan kue tradisional khas Bali. Tepatnya di Negara - Kabupaten Jembrana. Jaje Bendu terbuat dari beras ketan yang diisi dengan unti (parutan kelapa dan gula merah).
Warna aslinya putih, seiring berjalannya waktu ada warna lain seperti hijau dan ungu yang dihasilkan dari ubi ungu.
Sekilas, tampilan jaje bendu ini mirip dengan dadar gulung. Namun, tekstur luarnya kering, dan kenyal. Sementara rasanya manis dan gurih. Pas banget dinikmati bersama dengan teh atau kopi.
Sayangnya, saya tidak menemukan literatur kisah maupun filosofi dibalik jaje bendu. Saya duga, jaje bendu adalah salah satu resep turun temurun nenek moyang.
Mereka memanfaatkan bahan lokal seperti beras ketan dan kelapa yang melimpah. Kemudian mengolahnya sebagai wujud rasa syukur sebagai pelengkap persembahan kepada Sang Pemberi Hidup. Bukan hanya itu, nenek moyang kita juga menyadari, bahwa makanan adalah pemersatu kebersamaan.
Tak disangka, dibalik kesedehanaan penampilan jaje bendu. Menyimpan rasa yang enak, telah memikat hati banyak orang. Pecintanya bukan hanya dari kalangan orang - orang pinggiran, tapi juga para pesohor dan penentu kebijakan. Nggak salah, apabila di kemudian hari, jaje bendu menjadi ikon di daerah Negara.

.png)

Komentar
Posting Komentar