Terimalah Kehidupan yang Sederhana dan Damai.
Tapi, Tipat berulangkali menempelkan hidungnya di pipi - mencoba membangunkan aku, dan tetap konsisten begitu sampai aku memberinya makan!
Kulirik jam dinding, sudah hampir jam 5, jadi aku bangun dan bergegas ke kamar mandi, dan Tipat sudah menunggu dengan sabar di depan tempat makananya.
Setelah sholat subuh, aku memutuskan bermalas - malasan di atas tempat tidur seraya membaca buku. Momen sederhana yang sering kuimpikan.
Setelah bekerja kembali, otomatis memiliki ritme yang sama. Pekerjaan dan tanggung jawabku kian bertambah bukan hanya sebagai ibu rumah tangga tapi juga pekerja. Bagaimana aku mengatur dua peran itu dengan smooth, tanpa harus melupakan diri sendiri.
Di minimart, aku sering mendengar curhatan ibu pekerja, bagaimana strugglenya mereka mengatur waktu, sementara suami nihil peran dan terkesan masa bodo dengan kerepotan sang istri.
Ada juga yang sering mengeluh kekurangan uang, anehnya dia sering check out di platform Orange. Aku tahu ini, karena dia yang cerita.
Sebagai seorang empath, di sini aku harus menarik garis tegas, supaya aku tidak terjerumus masuk ke dalam masalah orang.
Hidupku sudah rumit, dan aku tidak mau menambah kerumitan lagi dengan memikirkan masalah orang lain. Bukankah orang lain memiliki ujiannya sendiri.- sendiri, dan memilih fokus dengan diri sendiri. Peranlu di situ cukup menjadi pendengar.
Makin ke sini makin paham, jika hidupmu mau tenang dan damai buang semua ekspektasi dan kurangi kemauan. Baik itu pada pasangan, anak, sodara, orang lain bahkan terhadap pekerjaan.
Memiliki ekspektasi berlebih hanya membawa kekecewaan dan duka. Pun begitu dengan kemauan yang tinggi. Hanya membawa kita ke dalam kesengsaraan.
Menjalankan kedua poin itu tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Pasti ada peran bathin. Namanya manusia kita pasti punya ego.
Tapi, setelah pelan - pelan melepaskan dan menerima kehidupan kita dengan syukur, rasanya kok bathin jauh lebih damai.
Makan dengan lauk tempe, teri dan sambal terong, nikmatnya sudah luar biasa. Jangankan dikasih bos sekilo rambutan, dikasih sisa uang lima ratusan sama customer saja senangnya luar biasa.
Menerima kondisi kita seapa adanya adalah suatu berkat, karena tidak banyak orang yang bisa melakukan itu.
Kebanyakan, mereka terus bergulat mencapai ekspektasi orang - orang. Bahwa hidup harus memiliki ini itu. Untuk apa? Sekedar mendapatkan validasi dari orang - orang untuk terlihat sukses. Percayalah, itu sangat melelahkan.
Setelah mensyukuri hal - hal sederhana. Kini aku bisa melihat dunia dengan perspektif lain, dan itu sudah menjadi basic modal untuk bisa bahagia. Bukankah itu yang mau kita capai?


.png)

Komentar
Posting Komentar