Hidup itu Sudah Berat, Maka Nikmatilah
Kapan kamu menikmati hidupmu? Atau kamu sengaja menundanya sampai kamu mencapai apa yang kamu mau.
Saat duniamu kelabu, beban terasa berat dan pintu terasa tertutup. Kebahagiaan terasa jauh untuk direngkuh. Jangankan buat berpikir positif, buat tersenyum saja, bibir rasanya kaku.
Kita jadi mudah "baper" dan murung melihat kehidupan orang lain lebih maju. Kenapa mereka lebih beruntung?
Selanjutnya bisa ditebak, otak ini sibuk berpikir, mengkait - kaitkan masa lalu, seraya menyalahkan diri sendiri.
Saat saya bertanya apa sih yang membuat orang bahagia? Kebanyakan orang - orang menjawab punya banyak uang. Paham sih, uang memang tidak bisa membeli kebagiaan, tapi dengan memiliki banyak uang kita lebih leluasa mengatur hidup.
Untuk menggapai mimpi yang kita mau, kita makin gila bekerja, hingga mengabaikan momen - momen kecil yang hadir dalam hidup kita.
Saya punya masa kecil yang suram. Almarhumah Mama menjadi TKW semenjak saya kelas SD.
Saya kehilangan momen bahagia bersama Mama. Meskipun Abah dan Simbah memberikan cinta yang luar biasa. Tapi, saya menginginkan Mama hadir dalam tumbuh kembang saya saat itu.
Mama hingga tua tetap bekerja keras, banting tulang menjadi TKW, alasannya pengen membuat anak - anaknya bahagia. Tapi di satu sisi, Mama lupa bahwa anak - anaknya membutuhkan kehadirannya. Sedihnya lagi, Mama meninggalpun di negeri orang, lalu di kubur di sana.
Kejadian itu menorehkan pelajaran sekaligus luka yang sangat dalam kepada saya. Saya butuh waktu 3 tahun untuk merelease emosi, memaafkan Mama dan mengobati luka saya sendiri.
Pengalaman Pahit yang Mengubah Pandangan Hidup.
Mungkin, kamu sadar atau tidak, selama ini kita terlalu sibuk bekerja, mencari pekerjaan side hustle ini itu untuk menambah pundi - pundi uang. Karena kamu pikir, jika kamu BISA MENCAPAI EKSPEKTASI orang, kamu bakal BAHAGIA!
KAMU melupakan moment berharga. Tumbuh kembang anak yang terlewatkan, orang tua yang semakin menua, atau pasangan yang kesepian.
Pikiran kamu hanya fokus bagaimana mengejar kebahagiaan.
Dulu saya juga begitu. Tapi, setelah Mama meninggal, pikiran saya berubah drastis. Hidup saya lebih slow, gak terlalu ngejar duit lagi. Bukan gak butuh duit. Melainkan saya sadar, duit makin dikejar makin jauh.
Kini saya hidup lebih sadar serta menikmati momen. Momen - momen berkumpul bersama anak dan suami, maupun momen -momen kecil lainnya. Misal melihat langit, atau saat melihat bunga liar di pinggir jalan. Kehadirannya benar - benar saya nikmati. Rupanya hal sederhana itu membuat hati saya membuncah bahagia. Owh, ternyata untuk menggapai bahagia gak serumit apa yang saya pikirkan. Salah dong ya pemaham saya selama ini.
Di pikir - pikir, sebenarnya kebahagiaan itu simple, tapi kita sendiri yang membuatnya jadi lebih berat untuk mencapainya.

.png)

Komentar
Posting Komentar