Don't be alright



Apa yang kamu lakukan saat kondisi barhinmu sedang tidak baik - baik saja? 

Apakah kamu menerimanya dengan suka cita? Atau menolaknya mentah - mentah? 

Ini adalah tulisan pertama setelah blog ini hiatus beberapa tahun. 

Bekerja di ritel dengan orang - orang toksin membuat saya lelah lahir dan bathin. Ditambah pekerjaan suami yang sedang sepi,  membuat emosi ini terengah - engah untuk berpikir positif. 

Ketika kata Ikhlas tidak mudah dilakukan. 

Ketakutan terbesar saya adalah hidup dalam ketidakpastian. 

Lucunya, beberapa tahun kehidupan memberi kejutan - kejutan yang membuat saya menarik napas lebih dalam. 

Saya sadar, terkadang hidup sering menyuguhkan apa yang tidak kita mau. 

Tapi, sebagai manusia biasa, saya tidak memungkiri ada masa di mana saya mengeluh dan menginginkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sekarang. 

Bisa dikatakan saya sedang tidak baik - baik saja. Meski berulang kali saya pegang dada dan merapalkan kata ikhlas, ketakutan menghadapi masa depan masih saja nakal bersliweran, membuat nyali ciut. 

Saya butuh tempat untuk mencurahkan isi bathin, refleksi, di mana saya menulis apa yang otak saya mau. 

Menulis adalah terapi yang saya lakukan untuk waras, dan bisa terus berjalan tegak. 

Ceritanya, tadi pagi, saya morning walk di pantai Jimbaran, refresh energi sekalian olah raga pagi. 

Pagi itu langit tertutup mendung, tak banyak orang yang datang, jadi suasananya tenang.

Angit laut berhembus cukup kencang, membawa aroma laut yang segera saya hirup kuat, memenuhi rongga - rongga dada. 

Debur ombak menyapa telinga. Kaki ini melangkah ringan, menyapa lembut pasir putih dan mencium hangat air laut. 

Herannya hari terasa  hampa. Jiwa ini terasa kosong dan pikiran mengembara entah ke mana. Biasanya jiwa saya tenang ketika merangkul alam. Tapi kali ini tidak. Dada saya tetap saja sesak dan otak terasa penuh. 

"Saya tidak baik - baik saja", ucap saya dalam hati. 

Saya tidak bisa lagi berbohong dibalik senyum dan tawa yang sering tampakkan. Mengelabui orang - orang kalau saya wanita kuat. Saya sadar, saya tetaplah wanita biasa yang rapuh. 

Saya butuh wadah untuk refleksi, sebelum pikiran - pikiran negatif itu meracuni tubuh ini. 

Entah kenapa, lalu saya kepikiran untuk aktif menulis blog lagi. 

Saya pikir, kembalinya saya menulis di blog bukan suatu kebetulan, ini adalah sebuah panggilan jiwa yang tidak bisa saya abaikan untuk membuat jiwa saya adem. 

Bismillah, saya tetap konsisten berbagi pemikiran.


Komentar

Postingan Populer