Convenience Store Woman
Apa kamu sudah pernah membaca buku Convenience Store Woman - Sayaka Murata. Buku yang menceritakan tentang wanita yang bekerja di minimarket.
Tulisan ini bukan mau mengulas tentang buku tersebut, melainkan tentang pengalaman diriku sendiri.
____^^^____
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Punggung dan kakiku terasa nyaman sekali, setelah lama berdiri dan berjalan ke sana ke mari, sepanjang 9 jam.
Aku tadi masuk sore, dan pulang di atas jam 12 malam. Di depan minimarket masih ada sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong.
Sebelum tutup , salah satu dari mereka membeli arak dan beberapa botol bir.
Saat bekerja baik shift pagi atau sore, aku senang jika ada yang membeli minuman berakohol. Penjualan minimart cepat naik, tapi di satu sisi, agak ngeri juga jika ada yang mabuk. Terutama saat shift sore.
Siapa juga mengira, aku bekerja di sebuah minimarket di usia yang tak lagi muda.
Awal.- awal aku bekerja sempat shock karena load pekerjaannya banyak, belum lagi tanggung jawabnya yang besar, dan bekerja sendiri. Mata sudah seperti detektif, menelisik mana customer nakal. Wow! Berat juga pekerjaannya.
Job desknya bukan hanya menjadi kasir, melainkan lebih dari itu. Menerima barang datang, menata barang, restok barang, mengecek barang, mengelap barang, menjaga kebersihan area, handle counter minuman, mengisi label dan lain - lain
Biasanya hari senen sampai kamis itu hari sibuk. Banyak sales dan barang yang datang. Kalau barangnya sedikit gak masalah. Nah, saat menerima dan menata barang kecil - kecil seperti snack rencengan atau shampoo saset itu butuh waktu yang tak sedikit.
Sebaliknya jika minuman yang datang, atau detergen, waks siap - siap pinggang capek karena berat angkat - angkat. Pernah tuh punggung sampai ditempelin salonpas empat biji biar sakitnya hilang.
Terus...
Masalahnya, saat customer rame, sales dan barang datang bersamaan, bikin deg degan. Maunya membelah diri, biar sat set bisa handle semua. Tapi, pada akhirnya sadar, tangan kita cuma dua. Handle sebisanya, dan pilih mana yang yang prioritas.
Belum lagi jika ada barang hilang atau uang laporan penjualan yang tidak pas, dan sikap customer yang seenaknya, ini menjadi beban juga.
Namun, semua itu terkikis oleh suara pintu dan scanner. Duittttt!!! Bunyi itu bagaikan sebuah oase di padang pasir.
Bekerja di minimarket, memberiku pelajaran tentang banyak hal, bukan hanya trust, empati, tapi juga tentang respek.
Di balik kasir, diam - diam aku memperhatikan customer. Ada si A yang super duper perhitungan sekali, si B yang maunya selalu dilayani, si C yang cemberut atau di D yang suka menggoda. Sudut pandangku berubah. Penilaian bukan hanya berdasarkan penampilan semata, tapi lebih dalam, dan melihat mereka dari berbagai sisi. Empatku semakin naik.
Aku kini lebih menghormati dan mengapresiasi pekerjaan orang - orang. Apapun pekerjaan mereka poinnya adalah untuk bertahan hidup. Belum tentu kok pakaian necis attitudenya bagus. Justru cenderung sikapnya pongah dan terkesan meremehkan pekerjaan orang di bawah mereka.
Belum tentu juga orang bule kaya - kaya dan royal, nggak! Ingat, nyari duit di Indonesia. Sama dengan kita yang merantau. Hanya casingnya saja yang berbeda. Ada lho duit 250 rupiah ditungguin dan bisa debat kusir, gara - gara tidak ada uang kecil. Pernah tuh kejadian, sampai aku geleng - geleng kepala sendiri. Ujung - ujungnya kita ngalah, dan memberi mereka uang lebih dari kantong sendiri.
Malah, orang - orang kecil seperti kuli dan pedagang kaki lima yang pengertian. Mereka tidak ribet, dan ngerti kondisi. Mereka tidak complain saat uang receh 500an diganti permen.
Hidup itu sudah rumit, ngapain kita nambahin kerumitan lagi yak? Hehehe

.png)

Komentar
Posting Komentar