Saat Menulis Menjadi Obat
Pernah gak sih, kamu lelah dan putus asa dengan hidup? Bukan karena masalah besar yang tiba - tiba datang. Melainkan masalah - masalah kecil yang konstan datang menekanmu.
Dadamu menjadi berat, seolah semua pintu tertutup, tidak ada jalan keluar. Lalu kamu bertanya - tanya, apa yang harus kulakukan?
Ini juga terjadi pada saya. Di rumah, saya harus menghadapi suami yang murung karena pekerjaan sedang sepi, di tempat kerja pun tekanannya pun tak kalah keren. Tidak ada tempat yang tenang untuk sekedar bernapas.
Sebagai manusia biasa saya juga punya lelah. Tidak mungkin sayabisa terus menerus postive thingking dan bersembunyi dibalik senyum lebar. Sementara jauh di lubuk hati, saya menangisi hidup yang terasa tidak adil.
Di saat pengen bisa menemukan jalan keluar dan kenyamanan dengan cepat. Justru yang didapat malah tekanan yang luar biasa. Beban hidup terasa kian berat dan ke mana - mana terasa buntu.
Menulis adalah salah satu cara saya untuk mengurai panas dan keriuhan di dada. Sembari menatap langit dan hujan yang datang tanpa mengetuk pintu.
Saya tarik napas panjang, mensyukuri saya masih hidup, dan hal - hal kecil yang saya dapat. Pelan - pelan saya berdamai dengan kondisi saat ini.
Meski pekerjaan bisa dibilang kurang bagus, setidaknya saya bisa bekerja dan mendapatkan upah, bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Walaupun pekerjaan suami saat ini sedang sepi, setidaknya anak dan suami tidak neko - neko, dan kami semua sehat.
Kita harus sadari, bahwa kita tidak bisa mengontrol di luar diri, kecuali diri kita sendiri. Saat teman, terus mengintimidasi, sedapat mungkin kita tenang, meski dengan air mata berderai - derai.
Saat kita menginginkan suami untuk lebih fight buat mencari penghasilan lain, sementara di pihak suami, actionnya slow dan lebih suka menunggu. Kita juga tidak bisa berbuat apa - apa. Selain menarik napas panjang. Sebab, kita tidak bisa mengubah orang lain kecuali dirinya sendiri.
.jpg)
.png)

Komentar
Posting Komentar